Rabu, 30 Maret 2011

Manusia Dan Penderitaan (Masalah)

Salah satu hal yang lumrah ketika manusia hidup mengalami masalah. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang terlepas dari sebuah masalah, baik itu orang kaya ataupun miskin, semua memilki sebuah masalah masing-masing.
            Di lihat dari sisi pandang yang sempit, kita sebagai pelaku sosial sering mengkaitkan sebuah penderitaan dengan kalangan orang miskin. Namun pada kenyataanya bukanlah orang miskin saja yang mengalami penderitaan. Banyak orang-orang lain yang berkeceukupan hidupnya masih merasa diri menderita dan hidup dalam penderitaan. Oleh sebab itu sebuah penderitaan pada dasarnya tidak hanya dialami oleh kaum marginal saja, melainkan semua manusia. Namun hal mengenai penderitaan ini bukanlah yang harusnya menjadi titik fokus hidup manusia. Pola pikir kitalah yang nantinya dapat menentukan apakah kita hiudp dalam penderitaan atau kita hidup di luar sebuah penderitaan.
             Jika kita lihat dan memandang lebih luas arti dari sebuah penderitaan yang disebabkan oleh sebuah masalah, kita dapat membagi beberapa manusia dalam beberapa Pola pikir yang sederhana.
1.    Ada manusia yang pasrah dengan masalah yang ia hadapai sehingga ia hidup dalam penderitaan terus-menerus.
2.    Ada manusia yang hanya bermimpi dan berangan-angan hidup bebas dari semua permasalahan, namun pada kenyaatnya ia sedang banyak terhimpit masalaha dan pada akhirnya membuat hidupnya menderita dalam penderitaan angan-angan.
3.    Namun ada juga manusia yang hidup di himpit banyak masalah tetapi dapat menyelesaikanya karena ia memiliki tujuan dalam hidupnya untuk melakukan yang terbaik selama ia dapat hidup.

Dari ketiga Pola pikir diatas, kita dapat melihat sendiri dimana letak pola pikir yang benar serta yang salah. Jika memiliki salah satu dari pola pikir diatas, apakah sudah benar atau belum pola pikir yang kita punya sekarang? Jika belum, artinya kita harus dapat mengubah pola pikir kita untuk juga dapat mengubah hidup kita yang mungkin awalnya hidup dalam permasalahan yag menumpuk dan tidak terselesaikan menjadi hidup yang penuh tujuan dan dapat terus menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Namun jangan harap proses perubahan pola pikir itu seperti membalikan telapak tangan. Lingkungan yang ada di sekitar kita merupakan awal permulaan kita meng-implemenatsikan pola pikir kita, dan terkadang pola pikir yang kita jalankan belum tentu pada awalnya berjalan sukses 100%. Namun disinilah letak dan arti sebuah proses. Ketika kita sudah dapat memilki pola pikir yang benar, kita juga harus membagikan apa yang sudah kita lakukan untuk hidup dengan pola pikir benar kepada orang-orang sekitar kita agar hidup mereka juga dapat berubah. 

Kamis, 24 Maret 2011

Manusia dan Keindahan (Nilai Seni)

             Setiap manusia memandang sesuatu indah dan baik ketika dirinya merasa nyaman dan merasakan sesuatu yang membuat dirinya lebih baik dari biasanya. Lewat hal-hal yang berhubungan dengan keindahan inilah akhirnya muncul sebuah hasrat dari dalam lubuk hati manusia untuk membuat dirinya nyaman terus-menurus dan lebih relax dalam menjalani kehidupanya. Beberapa orang senang dengan keindahan musik, lukisan, pahatan dan lain-lain yang akan membuat orang tersebut nyaman ketika merasakan keindahan-keindahan dari objek-objek tersebut. Nilai-nilai keindahan inilah yang akhirnya di sebut Seni oleh para penikmat objek-objek indah tersebut.
            Kedekatan manusia dengan keindahan tidak jauh kita lihat pada bidang Seni ini. hal-hal yang membuat manusia nyaman akan sangat dekat dengan keindahan yang berujung pada nilai seni. Seni sendiri memiliki banyak contoh dan pencinta seni pun memiliki kecintaanya tersendiri dalam suatu Seni. Satu orang biasanya akan memiliki beberapa kecintaan seni yang berbeda satu sama lain. Hal inilah yang membuat Seni Luas di kalangan banyak orang dan membuat pandangan seni terhadap suatu objek berbeda-beda dari satu individu ke individu lainya.
            Seni yang di indentik-kan dengan keindahan tak jarang di nilai sebagai hal yang memiliki nilai jual tinggi. Oleh sebab itu tak jarang kita melihat hal-hal yang berhubungan dengan seni di jual dengan begitu mahal karena dianggap memiliki nilai seni yang tinggi.
            Dalam hal tingkatan kebutuhan semua hal-hal yang berhubungan dengan seni biasanya akan masuk pada tingkatan Tersier karena beberapa orang menganggap nilai ini akan terpenuhi jika nilai kebutuhan lain sudah terpenuhi. Hal ini juga disebabkan karena nilai jual seni berharga tinggi.